_Mengabdi Setulus Hati Bersama Muhammadiyah_
Oleh : Faizal Rahman.,S.Sos.,M.Pd,
( Sekretaris Pimpinan Cabang Muhamamdiyah Cikampek )

Menjadi bagian dari Muhammadiyah bukanlah hal yang mudah, tetapi juga tidak sulit bagi mereka yang menjalaninya dengan ketulusan dan keikhlasan. Setiap warga Muhammadiyah memiliki latar belakang yang beragam—ada yang lahir dalam keluarga Muhammadiyah secara turun-temurun, ada yang masuk melalui proses perkaderan, ada yang bergabung melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), ada pula yang datang dari jalur regenerasi atau pengalaman pribadi dalam memahami gerakan ini.
Pada umumnya, individu yang paling aktif dalam Muhammadiyah adalah mereka yang menduduki posisi struktural, baik di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga pusat, serta mereka yang berperan dalam ortom, pimpinan amal usaha, atau yang sehari-harinya terlibat dalam lingkungan Muhammadiyah. Namun, keterlibatan dalam Muhammadiyah tidak terbatas pada mereka yang bekerja di AUM. Banyak juga yang tetap berkontribusi meskipun berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, pejabat, politisi, pengusaha, pedagang, akademisi, dan profesi lainnya. Partisipasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik secara langsung dalam organisasi maupun melalui media digital dan sosial sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan Muhammadiyah.
Dinamika Keaktifan dalam Muhammadiyah
Setiap individu memiliki tingkat keterlibatan yang berbeda dalam Muhammadiyah. Ada yang sangat aktif dan terus berkontribusi, ada yang stabil dalam partisipasi, ada yang sesekali terlibat, ada pula yang hanya menjadi simpatisan. Bahkan, ada yang pada awalnya aktif tetapi kemudian menghilang karena kesibukan atau alasan lainnya. Semua ini adalah realitas yang tidak bisa disamaratakan, karena jihad dalam mencari nafkah dan memenuhi tanggung jawab pribadi juga merupakan bentuk pengabdian yang utama.
Yang terpenting bukanlah seberapa besar kontribusi yang diberikan, tetapi adanya niat dan usaha untuk berperan dalam perjuangan Muhammadiyah, sekecil apa pun itu. Bahkan amal kecil yang dilakukan dengan penuh ketulusan lebih bernilai daripada kontribusi besar yang dilandasi oleh kepentingan pribadi. Pada hakikatnya, perjuangan dalam Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah dan dakwah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Muhammadiyah hadir bukan untuk menciptakan perpecahan atau kegaduhan, tetapi sebagai solusi bagi umat. Oleh karena itu, pengabdian dalam persyarikatan ini harus didasari oleh semangat kebersamaan, jauh dari sikap arogansi dan kepentingan pribadi.
Realitas Bermuhammadiyah dalam Berbagai Kondisi
Kondisi dan tantangan dalam bermuhammadiyah bervariasi di setiap daerah. Ada wilayah yang mayoritas penduduknya adalah warga Muhammadiyah, ada yang bercampur dengan kelompok lain, dan ada yang masih menjadi minoritas. Keberadaan amal usaha juga berbeda-beda—ada yang berkembang pesat, ada yang baru mulai dibangun, bahkan ada yang masih dalam tahap perjuangan untuk bertahan.
Berbeda dengan mekanisme negara yang mengandalkan alokasi anggaran dan subsidi, Muhammadiyah menuntut kemandirian dan kemampuan dalam memberdayakan potensi yang ada. Oleh karena itu, diperlukan semangat dan keteguhan dalam mengabdi, sebagaimana dicontohkan oleh K.H. Ahmad Dahlan yang tetap berjuang hingga akhir hayatnya.
Pengabdian dalam Muhammadiyah tidak terbatas pada mereka yang berada di posisi elit atau memiliki status sosial tinggi. Bahkan, warga Muhammadiyah dari kelas akar rumput pun dapat berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya. Keberhasilan perjuangan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh kedudukan atau kekayaan, tetapi oleh ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankan misi dakwah dan pengabdian.
Menjadi Bagian dari Muhammadiyah dengan Berbagai Cara
Ada banyak cara untuk berperan dalam Muhammadiyah. Tidak hanya mereka yang bekerja di AUM atau yang terlibat dalam kepemimpinan struktural yang dapat berkontribusi, tetapi setiap warga Muhammadiyah—baik yang memiliki Nomor Baku Muhammadiyah (NBM), yang aktif dalam ortom, maupun yang menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah—dapat mengabdikan diri sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Mengikuti program yang telah dirancang oleh pimpinan struktural, berpartisipasi dalam kegiatan, dan mendukung gerakan Muhammadiyah dalam berbagai bentuk merupakan bagian dari pengabdian. Baik dalam skala besar maupun kecil, luas maupun sempit, setiap bentuk keterlibatan adalah saksi atas perjuangan dalam persyarikatan ini.
Menjadi khodimul ummah (pelayan umat), khodimul Islam (pelayan Islam), dan khodimul Muhammadiyah (pelayan Muhammadiyah) harus dilakukan dengan ketulusan, keikhlasan, dan kesungguhan. Keterbatasan dan kekurangan dalam diri tidak boleh menjadi penghalang, tetapi harus menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan menjadi kader Muhammadiyah yang lebih baik.
Mengabdi dengan Keikhlasan, Tanpa Pamrih
Mengabdi di Muhammadiyah bukanlah tentang mengejar keuntungan atau pengakuan, tetapi tentang menjalankan amanah dengan penuh ketulusan. Sikap rendah hati dalam berjuang harus selalu dijaga, tanpa merasa lebih unggul dari yang lain.
Keteguhan hati dan keimanan harus menjadi landasan utama dalam pengabdian, agar terhindar dari kepentingan duniawi yang hanya bersifat sementara. Ketika seseorang mengabdikan dirinya dengan penuh keikhlasan, maka segala tantangan akan terasa ringan dan perjuangan dalam Muhammadiyah akan menjadi lebih bermakna.
Tidak ada alasan untuk berhenti berjuang bersama Muhammadiyah, meskipun sering kali dianggap lemah atau tidak berdaya. Kecintaan terhadap Muhammadiyah harus tetap dijaga, karena sekali berada dalam Muhammadiyah, maka komitmen untuk terus berkontribusi harus senantiasa ditanamkan. Sebagaimana pesan K.H. Ahmad Dahlan, “Jangan duakan Muhammadiyah dengan alasan apa pun.”
Yang terpenting bukanlah seberapa besar peran yang dimainkan, tetapi seberapa tulus dan ikhlas seseorang dalam mengabdikan dirinya. Mengabdi setulus hati untuk Muhammadiyah—hari ini, esok, dan selamanya.

